Senin, 18 Agustus 2014

Pemotretan di dalam CLUB


1. Berani nekat untuk mengambil foto dengan ISO tinggi (resiko noise yg cukup parah)

( berikan aja efek black & white di foto tersebut kalo emang noisenya terlalu parah, malhan hasil
yang kita dapat setelah di convert ke BW hasilnya malhan cakep and terkesan berkelas)

2. Noisenya kita akalin dengan penggunaan software noise ninja "plug in photoshop"
(dengan 1 kali click semua noise hilang)

3. jangan pernah membawa tripod (kecuali kita yang buat acaranya)
Kalau modal nekat bisa2 terkesan menggangu pemandangan bahkan bisa di uber ama 
pihak security

4. Berani untuk ber experimen (modal nekat)
biasnaya gw kalo mao ambil foto gw pasti datang awal untuk mencari settingan camera mulai 
dari ISO, aperature bahkan Speed untuk shutter. tidak perlu dengan lensa mahal atau camera
DSLR yang mahal.. hanya menggunakan seadanya.. (lensa kit juga ngga papa) yang penting ada 
kemauan untuk belajar

5. usahakan hadir sebelum acara di mulai
( bisa potret interior, peralatan DJ bahakan mencari posisi dimana yang bisa di jadikan angle 
terbaik untuk mempotret)

6. Jangan pelit untuk mempotret (ada yg pelit dengan alasan boros shuuter)
(kenapa jangan pelit di karenakan moment yang dpt itu tidak dapat diulang kembali)

7. Penggunaan BLITZ (wajib hukumnya)
kunci dari pemotretan di dalam club sama seperti pemotretan di dalam studio sehingga 
adanya cahaya tambahan itu wajib "gunakan lah slow sync"

8. Jangan takut dengan speed shutter yang rendah
kebanyakan fotographer pada takut kalo penggunaan shutter yang rendah 
(berakibat shake dan buram pada hasil)

Solusinya : maen tembak dengan BURST mode (continues shoot) pasti dari 5 atau 3 foto 
pasti ada 1 foto yang kena di freeze

Selain itu ada bantuan dari FLash external


9. Jangan pernah menggunakan internal flash
biarpun internal flash bisa kita kurangi chayanya tetapi aja tetap membuat foto kita kelihatan
flat bahakan backgroud and cahaya2 lampu ataupun efek laser bahkan hilang di 
sebabkan internal flash yang di tembakan

10. Framing (penempatan objek tidak terlalu ketengah posisinya, kita tetap membutuhkan 
empty space untuk memposisikan objek "rules of third") dan usahakan penggunaan lensa 
yang mempunyai IS (untuk canon) dan VC (nikon), maksudnya mempunyai image stabilizer

Cahaya yang Lembut dengan Flash Diffuser


Memotret  didalam ruangan dengan menggunakan lampu flash eksternal  akan  menciptakan bayangan kasar, pencahayaan yang datar dan terkesan tidak menarik. Untuk menghindari hal ini, coba lah gunakan flash diffuser (semacam pelapis tembus cahaya yang menempel di depan flash)  agar Anda  mendapatkan cahaya lembut dan terdifusi. Apabila Anda menggunakan  flash bawaan kamera DSLR anda yang bisa terbuka secara otomatis, anda dapat menggunakan  diffuser seperti Soft screen Diffuser. Apabila anda memiliki flash eksternal dapat membeli soft flash diffuserseperti softbox atau lambency. Coba saja liat perbedaannya tanpa menggunakan flash diffuser, foto anda akan terlihat seperti hasil dari fotografer professional.

Beberapa bidang disekitar kita juga dapat berfungsi sebagai flash diffuser contohnya langit-langit bangunan. Cara ini  walaupun tidak sebaik dengan menggunakan alat namun Anda akanmendapatkan cahaya lembut dan terdifusi. Jadi bagi yang sudah ada alat  flash diffuser cara ini tidak perlu digunakan lagi. Gunakan external Flash DSLR yang dapat diarahkan kepalanya, Anda bisa menggunakan flash apapun baik yang biasa maupun merk terkenal dan banyak digunakan orang banyak seperti canon speedlite 430ex II dan  speedlite 580EX II atau Nikon speedlite SB-600. Ingat arah cahaya flash eksternal jangan diarahkan langsung ke wajah objek anda, anda dapat memantulkannya ke dua tempat dengan dua cara yaitu:
  1. Langit-langit, terutama yang bercat warna putih dapat digunakan sebagai flash diffuser. Apabila lokasi pemotretan mempunyai langit-langit berwarna putih, anda dapat mengarahkan kepala flash ke langit-langit dengan sudut 45 derajat. Langit langit akan menyerap cahaya yang tajam, lalu yang menimpa objek Anda adalah cahaya yang jauh lebih lembut. Yang paling istimewa,tidak akan muncul bayangan nyata di belakang  objek foto. Sebaliknya, bayangan akan jatuh di permukaan lantai.
  2. Mintalah  teman atau asisten (bila ada) untuk memegang  reflector disisi kiri atau kanan Anda, letakkan sedikit di atas tinggi bahu kemudian arahkan kepala Flash ke reflektor. Reflektor tidak hanya meneyerap cahaya tajam dari flash, dengan adanya reflektor anda bisa menentukan ke arah mana cahaya yang dikehendaki sehingga anda bisa bereksperimen dengan arah cahaya dan membuat foto anda terlihat berbeda. Reflektor juga berfungsi sebagaiflash diffuser yang akan meratakan cahaya hal ini akan menimbulkan  bayangan lembut pada bagian samping wajah objek Anda dan menciptakan efek cahaya yang menakjubkan.

Lensa Untuk Kamera SLR

Salah satu kelebihan dari kamera Single Lens Reflex (SLR) baik yg konvensional (film) maupun yang digital (DSLR) adalah mudahnya kita mengganti lensa standard (kit) bawaan dari pabrik dengan lensa-lensa yang lainnya sesuai dengan selera ataupun kebutuhan.
Apa saja jenis-jenis lensa yang ada di pasaran yang biasa digunakan untuk ‘menggambar dengan cahaya’ itu?
1. Lensa Normal 
Lensa ini adalah lensa yang menghasilkan gambar dengan perspektif lebih natural jika dibandingkan dengan lensa jenis lain. Sebuah lensa dikategorikan sebagai lensa normal jika memiliki focal length yang setara dengan diagonal gambar yang diproyeksikan didalam sensor kamera.
Pada format 35mm, dimensi gambar yang diproyeksikan kedalam kamera adalah 36 mm x 24 mm (panjang x lebar), sehingga diagonal gambar tersebut adalah 43,27 mm atau setara dengan 50 mm.
Lensa ini juga dikategorikan sebagai lensa primer karena mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya memiliki bukaan diafragma maksimum yang lebih besar daripada lensa lain, seperti f.2, f1.8 atau bahkan f1.2 sehingga dapat digunakan untuk memotret pada kondisi minim cahaya dapat menghasilkan gambar yang lebih kaya warna.
Hal ini dimungkinkan karena dengan adanya bukaan diafragma yang maksimum, kamera dapat merekam lebih banyak cahaya.
2. Lensa Wide-angle 
Lensa ini kadang-kadang disebut lensa lebar. Seperti namanya lensa ini memiliki sudut pandang yang sangat lebar, bahkan pada beberapa lensa dapat memberikan sudut pandang mendekati 180 derajat.
Pada prakteknya lensa jenis ini sering digunakan untuk memotret ruangan yang sempit atau untuk mengambil gambar sebuah benda secara utuh ketika benda tersebut berada relatif dekat dari pemotret.
Namun perlu diperhatikan bahwa gambar yang dihasilkan dari sebuah lensa wide-angle cenderung memiliki tingkat distorsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gambar yang dihasilkan oleh lensa normal.
Catatan lainnya, lensa ini tidak menghasilkan gambar sesuai dengan yang ditangkap oleh mata manusia, sebaliknya lensa ini memberikan kesan ‘lebih’ dari keadaan sebenarnya. Ruangan dapat terlihat ‘lebih’ tinggi, ‘lebih’ besar atau ‘lebih’ lebar dari ukuran sebenarnya.
3. Lensa makro 
Lensa dengan ukuran 50mm, 90mm atau 100mm dengan tulisan makro merupakan lensa yang didesain khusus untuk memotret subyek yang sangat dekat dengan kamera atau benda-benda kecil lainnya.
Perbedaan lensa 50mm biasa dengan lensa 50mm makro tentunya terletak pada jarak fokus terdekat lensa tersebut. Pada lensa 50mm biasa, jarak fokus terdekat dari lensa ke benda sekitar 50cm. Sedangkan untuk lensa 50mm makro, jarak fokus terdekatnya bisa hanya 2cm dari benda.
Lensa makro dapat pula digunakan untuk memotret benda yang jauh, tetapi tingkat ketajamannya sedikit rendah dibandingkan dengan lensa jenis lain, biasanya lensa jenis ini digunakan untuk memotret bunga, koin, tetes embun, kancing, serangga dan benda-benda kecil lainnya.
4. Lensa Zoom 
Lensa ini dirancang untuk memiliki beberapa sudut pandang yang berbeda. Terdapat berbagai macam lensa zoom, mulai dari 2x zoom, 3x zoom (70-200mm), 10x zoom (35-350mm) sampai dengan 12x zoom.
Untuk saat ini, lensa yang mempunyai lebih dari 3x zoom kurang mendapatkan gambar-gambar dengan kualitas yang konsisten. Oleh karena itu, pada umumnya pengguna lensa zoom profesional hanya menggunakan lensa 2x atau 3x zoom saja.
Beberapa lensa zoom merupakan lensa telephoto (200-400mm), beberapa yang lain merupakan lensa wide-angle (10-20mm, 16-25mm) dan sisanya mencakup wide-angle sampai telephoto (28-200mm, 35-135mm).
Lensa pada kategori terakhir sering disebut sebagai lensa zoom ‘normal’ dan telah menggantikan lensa primer sebagai solusi penggunaan satu lensa untuk berbagai kondisi.
5. Lensa Telephoto 
Terkenal akan kemampuannya untuk memperbesar obyek yang jauh, dan menghasilkan gambar yang tidak terdistorsi, lensa jenis ini merupakan lensa favorit untuk memotret pertandingan olahraga (sepakbola, Formula Satu, MotoGP, dll). Dan tak lupa juga untuk pementasan panggung (konser, teater, orkestra, dll). Tak luput pula para paparazzi pun menjadikan lensa jenis ini sebagai lensa andalannya.
Lensa telephoto dapat dikategorikan sebagai lensa telephoto normal (85mm, 100mm, 135mm, 200mm), lensa zoom telephoto (28-300mm, 55-200mm, 70-200mm, 90-300mm, 100-300mm) dan lensa super telephoto (300mm, 400mm, 500mm, 600mm).
6. Lensa Fisheye 
Dalam dunia fotografi, lensa fisheye adalah sebuah lensa wide-angle dengan kelebaran sudut pandang yang ekstrim. Area penglihatannya melebihi 100 derajat, atau bahkan kadang-kadang melampaui 180 derajat sehingga menghasilkan gambar-gambar dengan tingkat distorsi yang tinggi. Ruang tajamnya secara otomatis tidak terbatas dan pengaturan fokus kamera tidak terlalu diperlukan.
Awalnya lensa ini dikembangkan untuk digunakan dibidang astronomi, dan disebut ‘whole-sky lenses’. Kemudian lensa fisheye cepat menjadi populer dalam bidang fotografi karena keunikan distorsinya. Lensa ini sering digunakan untuk memotret hamparan pemandangan yang sangat luas sekaligus menonjolkan bentuk lengkung bumi.